Contoh Laporan Praktikum Mikrobiologi Tanam,Membuat Preparat Awetan Nematoda dan Biakan Murni Jamur

Posted by ahmad mauludinsohih On Friday, June 21, 2013 0 comments

 Laporan Praktikum Mikrobiologi Tanam,Membuat Preparat Awetan Nematoda dan Biakan Murni Jamur

Laporan Mikrobiologi Tanam Nematoda
Nematoda sp

BAB 1. PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Nematoda merupakan mikroorganisme yang hidup didalam tanah yang berbentuk seperti cacing memiliki ukuran mikroskopis, berbentuk silindris memanjang, berwarna transparan, serta berada pada tanah yang mengandung film-film air. Didalam tanah nematoda ada yang bersifat saprofit (menguntungkan), akan tetapi juga ada yang bersifat patogen (merugikan). Nematoda saprofit, bukan hanya bermanfaat bagi kesuburan tanah yang dikarenakan aktifitas metabolismenya nematoda menghasilkan keringat yang berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah tersebut. Akan tetapi nematoda saprofit juga bermanfaat bagi kelangsungan kesuburan tanaman yang dibudidayakan. Nematoda saprofit memiliki peran penting dikarenakan nematoda sprofit yang masuk kedalam akar tanaman melalui lubang-lubang alami tumbuhan, akan membantu tanaman untuk memperoleh oksigen. Pada nematoda saprofit, pergerakanya lebih cepat dibandingkan dengan nematoda patogen. Selain itu, nematoda patogen yang masuk kedalam perakaran tanaman melalui lubang-lubang alami akar, ataupun dengan cara membuat luka pada akar, sehingga nematoda tersebut dapat masuk kedalam perakaran tanaman dan akan menyebabkan layu pada tanaman, daun tanaman berwarna kuning, dan pertumbuhan tanaman akan mengalami keterhambatan. Hal tersebut terjadi dikarenakan nematoda patogen yang masuk kedalam perakaran tanaman akan menyerap nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tanaman, dan akan menyebabkan tanaman tersebut terganggu pertumbuhannya. Selain itu, jika nematoda saprofit tidak memiliki stylet pada mulutnya, akan tetapi pada nematoda patogen, terdapat stylet pada ujung mulutnya, yang berguna untuk melukai, dan menembus dinding akar. Dalam menyerang tanaman, nematoda dikenal memiliki 3 cara penyerangan, yakni ektoparasit, endoparasit, dan semiendoparasit. Ektoparasit merupakan serangan nematoda dengan cara membuat luka pada akar tanaman inang, sehingga tanaman inang yang akarnya dilukai oleh nematoda menjadi pintu masuknya nematoda dalam melakukan infeksi akar, yang selanjutnya akan menjadikan sebagai tempat nematoda untuk malakukan proses metabolisme pertumbuhannya, sehingga nematoda patogen melangsungkan perkembangbiakannya berada didalam tanaman inang tersebut. Endoparasit merupakan serangan nematoda dengan cara masuk melalui lubang-lubang alami tanaman inang, seperti misalnya pada pori-pori akar. Nematoda yang masuk melalui lubang-lubang akar tanaman tersebut kemudian melakukan proses perkembangbiakannya didalam tanaman inang, dan akan menyerap nutrisi yang dihasilkan oleh tanaman inangnya, sehingga menyebabkan tanaman inang pertumbuhannya nejadi terhambat. Sedangkan untuk serangan nematoda dengan cara semi endoparasit, adalah cara nematoda menyerang tanaman inang melalui bulu-bulu akar dengan cara memasukkan sebagian dari tubuhnya kedalam bulu-bulu akar, sedangakan untuk sebagian tubuh yang lainnya berada di luar. 

1.2 Tujuan 
Tujuan diadakannya praktikum teknik media tanam bagian hama dan penyakit tumbuhan dengan acara membuat preparat awetan nematoda adalah untuk mengisolasi nematoda dari dalam media tanam dengan cara memancing nematoda untuk kemudian membuat preparat awetan nematoda. 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 

Nematoda merupakan salah satu jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) penting yang menyerang berbagai jenis tanaman pertanian utama di Indonesia dan negara-negara tropis lainnya. Nematoda merupakan sejenis cacing halus yang hidup sebagai saprofit didalam air dan tanah, atau juga sebagai parasit pada tanaman dan hewan. Nematoda yang hidup sebagai parasit pada tanaman memiliki stylet yang berfungsi sebagai parasit pada tanaman dan hewan. Nmeatoda yang hidup sebagai parasit pada tanaman memiliki stylet yang berfungsi untuk menghisap sel-sel tanaman sehingga fungsi fisiologi tanaman akan terganggu. Nematoda dapat merusak tanaman pertanian hampir di seluruh Indonesia, baik itu tanaman padi, maupun tanaman budidaya yang lain. Di Indonesia nematoda parasit dapat merusak berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan, tanaman holtikultura, maupun pada tanaman perkebunan. Hal tersebut dikarenakan masih belum di temukannya metode pengendalian nematoda dengan cara yang ramah lingkungan. Cara pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimiawi dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang negatif dikarenakan bersifat beracunbagi manusia dan hewan peliharaan, selain itu, penggunaan nematisida kimiawi dapat dapat mencemari air, dan tanah. Serta dapat membunuh organisme bukan sasaran, yang termasuk musuh alami nematoda seperti jamur dan bakteri. Oleh karenanya pengendalian nematoda harus dilaksanakan dengan berwawasan lingkungan. Nematoda parasit dapat mengakibatkan tanaman mengalami penurunan produksi pertanian, bahkan dapat mengakibatkan gagal panen. Serangan nematoda dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat besar. Serangan nematoda dapat menyebabkan kerusakan pada akar dikarenakan nematoda menghisap sel-sel akar, yang mengakibatkan pembuluh jaringan akar terganggu sehingga translokasi air dan unsur haramenjadi terhambat. Serangan nematoda juga dapat mempengaruhi proses fotosintesis, dan transpirasi. Sehingga pertumbuhan terhambat daun berwarna menguning seperti kekurangan unsur hara, dan mudah layu. Karena pertumbuhan tanaman yang terserang nematoda terhambatproduktifitas tanaman akan menurun. Kerugian lain yang disebabkan oleh serangan nematode adalah tidak dapat dimanfaatkanya unsur hara yang diberikan kepada tanamandalam upaya untuk meningkatkan produksi. Kerusaka akar dikarenakan nematoda menyebabkan pasokan air kedaun berkurang sehingga stomata menutup dan selanjutnya laju fotosintesis menjadi menurun (Mustika, 2010). Nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp) dikenal sebagai salah satu nematoda parasit akar pada berbagai jenis tanaman, terutama tanaman yang berada pada daerah tropis. Interaksi nematoda dengan tanaman inangnnya akan menimbulkan gejala yang khaspada bagian akar dibawah permukaan tanah. Tumbuhan yang terserang nematoda parasit biasanya menunjukkan gejala-gejala pertumbuhan yangtidak normal, seperti kerdil, dan cenderung layu pada hari-hari panas, sedangkan pada akarnya akan mengalami pembekakan dengan berbagai macam bentuk. Didalam mengendalikan serangan nematoda banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengendalikan nematoda. Salah satu langkah yang dapat digunakan sepertihalnya menggunakan tanaman perangkap, pergiliran tanaman, pemberoan lahan, pengendalian secara hayati, kimia, fisik, penggenangan lahan dan lain-lain. Kekurangan oksigen yang lebih lama akan mempengaruhi aktifitas dan metabolisme didalam tubuh nematoda serta mengurangi kemampuan nematoda tersebut untuk melakukan penetrasi kedalam jaringan akar tanaman inannya. Teknik penggenangan akan mempengaruhi kemamouan perkembangan nematoda dari larva menjadi dewasa. Pada tanaha dengan perlakuan yang penuh air nematoda tidak mampu untuk bergerak dikarenakan lapisan air menebaldan dapat memperlihatkan penurunan penetasan telur. Selain itu, aktifitas nematoda dalam tanah yang tergenang akan berpengaruh terhadap aktifitas nematoda tersebut dikarenakan nematoda mengalami kekurangan oksigen. Tingkat oksigen yang rendah di sekitar larva dan nemtoda betina didalam akar tanaman akan menyebabkan pengurangan pertumbuhan dan reproduksi (Irfandri, 2008). Salah satu yang menyebabkan produksi tanaman budidaya mengalami penurunan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, dan salah satunya adalah serangn nematoda, yang diantaranya adalah serangan nematoda parasit tumbuhan. Terdapat lebih dari 100 spesies nematoda parassit tumbuhan yang menyerang tanaman budidaya dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Nematoda parasit dikenal terdapat 3 cara dalam masuk ke tanaman inang. Dan salah satunya adalah melukai akar. Nematoda ini merusak akar sehingga menyebabkan tidak normalnya fungsi berbagai sistem yang memiliki peran yang sangat penting dalam dalam pertumbuhan tanaman. Populasi nematoda yang terdapat didalam media tanam baik didalam akar maupun didalam tanah berbeda pada masing-masing tanaman. Pertumbuha tanaman yang meliputi berat kering, dan berat basah tajuk sangat dipengaruhi oleh nematoda. Salah satu nematoda yang menyerang tanaman budidaya adalah jenis nematoda Pratylencus. Serangan nematoda ini akan menyebabkan gejala nekrois pada akar tanaman dikarenakan nematoda ini bersifat endoparasit migratori, yaitu nematoda yang ketika makan nematoda ini berpindah-pindah didalam akar tanaman inangnya, dan bahkan keluar untuk menemukan akar yang baru. Tanaman varietas smooth ceyenne merupakan inang yang cocok bagi nematoda Pratylencus. Kerusakan akar yang diakibatkan karena serangan nematoda akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat sehingga berat basah tajuk tanaman akan menjadi kurang dari setengah berat tajuk tanaman yang tidak diinfestisi oleh nematoda (Swibawa dkk, 2010). Diantara kelompok oraganisme tanah yang memiliki peran penting didalam ekosistem tanah adalah nematoda. Beberapa kriteria yang dipenuhi oleh nematoda tanah, sehingga dapat dijadikan bioindikator, yaitu nematoda memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, mudah diekstraksi dari dalam tanah, relatif mudah diidentifikasi, memiliki peran dari jaringan makanan, waktu hidup yang relatif singkat, menunjukkan respon yang spesifikterhadap berbagai gangguan tanah, dan kemampuan berkoloni yang tinggi. Nematoda memiliki kulit yang permeabel, sehingga nematoda sangat peka tehadap polutan. Nematoda yang berada didalam tanah menunjukkan perbedaan distribusi berdasarkan kedalaman tanah. Semakin banyak tanah maka semakin banyak kemungkinan nematoda tanah yang diperoleh hingga mencapai asimtot (Rahmita dkk, 2007). Didalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian terdapat beberapa kendala yang didhadapi, diantaranya seperti serangan (OPT) Organisme Penggangu Tanaman yang didalamnya termasuk nematoda parasit. Nematoda parasit sering merusak berbagai tanaman pertanian di seluruh dunia, baik didaerah tropis, maupun daerah subtropis. Gejala serangan nematoda pada tanaman tidak drastis, bahkan sering tertutup oleh gejala serangan hama atau penyakit yang lainnya yang lebih spesifik dan mudah dibedakan. Kehilangan hasil akibat dari serangan nematoda dapat terjadi dilapangan maupun di tempat penyimpanan. Sehingga mengurangi kualitas dan kuantitas produk. Selain mengurangi kuantitas serangan nematoda juga dapat menurunkan kualitas produk (Purnomo, 2010). Didalam melakukan budidaya tanaman pangan terdapat beberapa hambatan, dan salah satu hambatan yang terpenting adalah gengguna yang disebabkan oleh serangan nematoda parasit. Serangan nematoda biasanya terjadi pada tanah yang memiliki tekstur kasar atau berpasir. Disamping nematoda parasit dapat memperlemah tanaman budidaya, nematoda ini dapat juga menurunkan produksi tanaman budidaya. Serangan nematoda parasit pada bagian akar tanaman sering ditunjukkan dengan bengkak akar. Hal tersebut dikarenakan nematoda masuk melalui lubang alami bulu-bulu akar, ataupun masuk dengan cara melukai bulu-bulu akar. Tanah yang kekurangan oksigen akan menyebabkan penurunan aktifitas, dan reproduksi, serta penetasan telur (Reijntjes dkk, 2006). Serangan nematoda di awali dari infeksi akar oleh nematoda parasit, akan tetapi meskipun serangan nematoda diawali dari akar tanaman budidaya, serangan nematoda dapat menyebabkan penurunan hasil produksi, dan dapat menurunkan barat basah tajuk. Hal tersebut dikarenakan serangan nematoda parasit dapat sampai merusakjaringan pengangkut pada akar tanaman. Dengan demikian tanaman akan mengalami gangguan didalam melakukan transportasi air dan unsur hara dari dalam tanah. Gangguan pada pengangkutan unsur hara dan air oleh akar tanaman dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman diatas tanah. Didalam perkembangbiakannya, nematoda dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan perkembangbiakanya, yakni salah satunya faktor kimia tanah yang mempengaruhi kehidupan nematoda tanah yang meliputi PH, N, P, K, dan C-Organik. Faktor fisik yang mempengaruhi perkembangbiakan nematoda yaitu ketersediaan kadar air didalam tanah (Matnawy, 2007). 

BAB 3. METODOLOGI 
 3.1 Waktu dan Tempat 

 Praktikum teknik media tanam bagian hama dan penyakit tumbuhan dengan acara membuat preparat awetan nematoda dan biakan murni jamur dilaksanakan dilaboratorium hama dan penyakit tumbuhan fakultas pertanian universitas Jember pada hari Selasa 30 April 2013 pukul 19.00 sampai 04.00 WIB. 3.2 

3.2 Alat dan Bahan 
3.2.1 Alat 

1. Mikroskop 
2. Cawan petri
3. Preparat
4. Lidi 
5. Bak/wadah
6. Saringan 

3.2.2 Bahan 
1. Tanaman pacar air 
2. Air 
3. glasswoll 
4. Laktofenol 
5. Parafin 

3.3 Cara Kerja 
3.3.1 Memancing Nematoda 

1. Memancing nematoda dengan cara mengambil mikroskop bonokuler, dan meletakkan diatas meja kerja, kemudian suspensi nematoda yang telah disediakan diletakkan dibawah lensa obyektif. 

2. Menyesuaikan lensa mikroskop dengan kemampuan pandangan mata. 

3. Setelah sasaran terlihat, dengan menggunakan pancing mengarahkan pancing tersebut pada nematoda. 

4. Mengangkat nematoda sedikit demi sedikit dengan diikuti pentesuaian lensa , mengangkat hingga sampai permukaan air. 

3.3.2 Membuat Preparat Awetan Nematoda 

1. Mengumpulkan beberapa ekor nematoda yang telah difiksasi dan memasukkan kedalam gelas arloji atau cawan petri yang telah berisi laktofenol panas (65-70 C) dan memberi zat pewarna (asam fuksin, cotton blue dan lain-lain). 

2. Membuat lingkaran parafin pada gelas benda, menetesi laktofenol secukupnya (1-2 tetes) memberi glasswoll pada tiga sisi sebagai penyangga agar nematoda tidak pipih. 

3. Memindahkan nematoda dengan pancing (handling needle) dan menempatkan tepat ditengah-tengah lingkaran parafin dalam laktofenol. 

4. Menutup dengan kaca penutup (cover slip). 

5. Memanaskan diatas lempeng pemanas atau lampu bunsen beberapa etik untuk mencairkan parafinnya dan melekatkan dengan lem atau lak kuku. 

6. Memasukkan kedalam lempeng preparat yang terbuat dari lempeng alumunium, menjepit dengan karton. 

7. Memeberi etikettentang naman spesies, nama kolektor, tempat dan lain sebagainya. 

8. Menyimpan dalam kotak preparat (ada yag terbuat dari kayu, plastik, ataupun seng) 

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1 Hasil Tabel 
01. Pengamatan isolasi jamur golongan E 
isolasi jamur golongan e laporan mikrobiologi Tanam nematoda dan jamur murni

Tabel 02. Pembuatan preparat awetan nematoda golongan E 
Nematoda adalah mikrobakteria yang sangat jelas tampak keadaannya
4.2 Pembahasan

 Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh tabel seperti diatas, yakni pada kelompok 1 dengan menggunakan biakan murni jamur metode miring dengan wadah menggunakan tabung reaksi diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu, dan hitam kecoklatan. Setelah melakukan perbandingan dengan literatur, jamur yang tumbuh pada media biakan murni jamur miring tersebut adalah Aspergillus Niger. Sedankan untuk kelompok 2, dengan menggunakan media, dan perlakuan yang sama pula, dapat diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna hijau, keputihan, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur jamur yang tumbuh adalah jenis Trichodermaspp. Sedangkan untuk kelompok 3, dengan perlakuan, dan media yang sama diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu. Setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang ditemukan jamur yang tumbuh adalah jenis Fusarium sp. Sedangkan untuk kelompok 4 yang juga dengan perlakuan, serta media yang sama media tersebut dapat ditumbuhi jamur dengan warna putih susu, dan memiliki morfologi yang sama dengan jamur yang diperoleh dari kelompok 3 yakni jamur dengan jenis Fusarium sp. Dari proses pengamatan media biakan murni jamur metode miring yang telah diinkubasikan selama 24 jam diperoleh kontaminasi mikroorganisme lain yang tidak di harapkan. Kontaminasi tersebut terjadi pada kelompok 3 dan kelompok 4. Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kontaminasi tersebut diantaranya yakni tidak sterilnya peralatan yang digunakan untuk praktikum. Kebersihan peralatan, dan sterilnya peralatan laboratorium menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dengan seksama. Hal tersebut dikarenakan semua kegiatan laboratorium yang menggunakan peralatan pasti berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang kasat mata, jika peralatan yang telah digunakan tidak dibersihkan dan di sterilkan dengan benar, akan berakibat kontaminasi yang diakibatkan dari bakteri, virus, maupun mikroorganisme yang masih tertinggal, atau masih terdapat pada peralatan yang telah digunakan, dan berakibat tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diharapkan yang nantinya malah akan mengganggu proses pengamatan. Kemudian faktor yang kedua yang dapat mengakibatkan kontaminasi adalah kesalahan dalam melakukan isolasi. Hal tersebut sepertinya memang wajar dilkukan oleh manusia, akan tetapi dampak yang ditimbulkan akibat dari kesalahan isolasi berakibat pada kesalahan data yang nantinya akan diperoleh. Kesalahan yang sering dijumpai pada beberapa kegiatan laboratorium adalah kesalahan dalam tahapan, atau langkah kerja, misal ada beberapa langkah kerja yang harus di lakukan secara berurutan, akan tetapi salah satu langkan tersebut tertinggal, atau bukan pada tahapannya akan mengakibatkan kesalahan hasil, dan berakibat pada kesalahan data yang diperoleh. Terkadang kesalahan bahan yang digunakan pun juga dapat berakibat pada kesalahan hasil akhir. Faktor berikutnya yang dapat mempengaruhi kontaminasi disebabkan karena masuknya bakteri yang tidak diinginkan dari luar. Kita ketahui bahwa bakteri adalah mikroorganisme hidup yang dapat tumbuh dengan pesat. Karena bakteri merupakan mikroorganisme yang berukuran mikroskopis menjadikan bakteri sulit ketahui keberadaanya. Hal tersebut menjadikan bakteri masuk kedalam media tanpa disadari dan akan tumbuh pada media yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi bakteri tersebut. Jika hal tersebut sampai terjadi maka, akibat yang ditimbulkan adalah tumbuhnya mikroorganisme lain yang tidak diharapkan pada media tumbuh. Hal tersebut tentunya akan sangat mengganggu proses pertumbuhan, dan pengamatan bakteri yang diharapkan, dan nantinya akan berdampak pada kesalahan hasil data yang diperoleh. Jika pertumbuhan koloni yang diperoleh setelah melakukan inkubasi tumbuh dengan sempurna, yang biasanya di tandai dengan pertumbuhan koloni yang diharapkan menandakan proses isolasi tersebut sempurna. Kesempurnana tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor pula, seperti teknik isolasi, yang dimaksudkan adalah langkah dan cara yang dilakukan dan dikerjakan sesuai dengan petunjuk, dan menghasilkan hasil yang sesuai dan seperti diharapkan. Sedangkan jika hasil yang di dapat setelah melakukan isolasi dan masa inkubasi tidak ada perubahan, hal tersebut dikatakan biakan tidak tumbuh. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa hal seperti komposisi atau takaran media tidak sesuai dengan mikroorganisme yang akan di tubuhkan pada media tumbuh tersebut. Kita ketahui bahwa setiap mikroorganisme memiliki media tumbuh yang berbeda, ada yang tumbuh jika PH media basa, akan tetapi juga ada yang justru tidak tumbuh jika PH basa. Selain itu faktor yang dapat mengakibatkan mikroorganisme tidak tumbuh adalah ketika melakukan isolasi mikroorganisme yang diharapkan mati, matinya mikroorganisme tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah terkena pancaran sinar ultraviolet. Yang mengakibatkan mikroorganisme yang di tumbuhkan pada media tumbuh tidak dapat tumbuh seperti yang diharapkan. Dari proses pengamatan yang dilakukan yang terlebih dahulu dilakuan proses inkubasi selama 24 jam, diperoleh hasil dalam bentuk tabel seperti diatas, yakni pada kelompok 1, dengan perlakuan pengenceran kelipatan 10 kali pengenceran dengan menggunakan biakan murni tegak dengan wadah menggunakan tabung reaksi diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna hitam kecoklatan, yang setelah melakukan perbandingan dari literatur yang ada jamur yang tumbuh pada media kelompok 1 adalah jenis Aspergillus Niger spp. Sedangkan pada hasil kelompok 2, dengan menggunakan jenis media yang sama dan perlakuan yang sama pula, diperoleh pertumbuhan jamur berwarna hijau keputihan, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang telah didapatkan jamur yang ditumbuhkan tersebut adalah jamur jenis Trichoderma spp. Pada hasil media biakan murni jamur yang telah diperoleh dari kelompok 3, dengan perlakuan yang sama seperti pada perlakuan kelompok 1 dan kelompok 2 dengan menggunakan media biakan murni dengan metode miring diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang ada jamur yang tumbuh pada media biakan tersebut adalah Fusarium sp. Sedangkan pada media biakan kelompok 4, dengan metode dan perlakuan yang sama, diperoleh jamur dengan warna putih susu. Dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang diperoleh jamur yang tumbuh tersebut adalah jamur dengan jenis yang sama dengan kelompok 3, yakni Fusarium sp.Akan tetapi pada media biakan murni jamur pada kelompok 3 dan kelompok 4 tersebut mengalami kontaminasi bakteri dari luar jamur yang tumbuh dalam biakan murni tegak yang telah di buat memiliki warna hitam kecoklatan dan setelah dibandingkan dengan literatur yang didapatkan, jamur yang tunbuh pada media biakan kelompok 1 adalah jenis jamur Aspergillus niger sp. Jamur Aspergillus niger merupakan salah satu jenis jamur yang merugikan dikarenakan jamur tersebut bersifat patogen pada tanaman inangnya. Hal yang menjadikan jamur Aspergillus niger mapu mengganggu proses pertumbuhan tanaman iang dikarenakan jamur tersebut dapat menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin mampu mengkontaminasi biji-bijian, daging, buah-buahan sehingga menjadikan buah yang terkontaminasi menjadi busuk. Sedangkan pada biakan murni kelompok 2 memiliki warna hijau, dan setelah dilakukan perbandingan dengan literatur yang didapatkan jamur yang tumbuh pada media biakan murni kelompok 2 adalah jenis jamur Trichoderma spp. Jamur tersebut menjadi salah satu jamur yang bersifat saprofit, atau menguntungkan bagi tanaman inangnya. Hal tersebut dikarenakan hifa dari jamur Trichoderma tersebut mampu menjerat nematoda patogen, sehingga membantu tanaman terbebas dari serangan nematoda parasit yang bersifat merugikan. Nematoda parasit dapat dijerat oleh hifa Trichoderma dikarenakan pergerakan nematoda parasit sangat lambat sehingga hifa jamur mudah untuk menjerat. Sedangkan pada biakan kelompok 3 dan kelompok 4 yang terkontaminasi jamur yang di tumbuhkan berwarna putih susu, dan setelah dibandingkan dengan literatur yang ada, jamur yang tumbuh pada media biakan kontaminasi adalah jamur Fusarium sp. Jamur tersebut dikenal sebagai salah satu jamur yang menguntungkan, hal tersebut dikarenakan Fusarium merupakan jamur yang tumbuh pada tempe, tanpa adanya proses dari simbiosis jamur Fusarium, pembuatan tempe tidak akan berhasil. Dari praktikum yang telah dilakasanakan terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada media yang dibuat, yakni yang pertama adalah dengan menggunakan biakan murni tegak, dan biakan murni miring. Metode biakan murni tegak merupakan media biakan murni yang lebih sering menggunakan tabung reaksi sebagai tempat media tersebut, akan tetapi belum tentu media yang menggunakan tabung reaksi tersebut sebagai biakan murni tegak. Yang membedakan dari media murni tegak dan biakan murni miring adalah dari teknik pemberian media tersebut pada wadah, baik tabung reaksi, atau cawan petri. Jika pada biakan murni tegak media agar diberikan dengan menegagkan tabung reaksi dengan tujuan untuk meminimalisir kemungkinan terjadi kontaminasi oleh bakteri lain yang tidak diharapkan dari luar. Sedangkan untuk biakan murni miring yakni pemberian media dilakukan dengan memiringkan tabung reaksi, hal tersebut bertujuan untuk memperluas permukaan media yang berada didalam tabung reaksi tersebut, sehingga lebih mudah untuk melakukan pembiakan. Dari masing-masing metode yang digunakan, baik menggunakan media biakan murni tegak, dan metode biakan murni miring memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika pada media biakan murni tegak memiliki kelebihan yakni luas permukaan media agar lebih sempit, dibandingkan dengan metode biakan murni miring, hal tersebut menjadikan biakan murni tegak lebih bersifat meminimalisir kemingkinan terjadi kontaminasi dari luar. Hal tersebut dikarenakan pada metode biakan murni tegak selain permukaan media yang lebih sempit, akan tetapi juga menjadikan hal tersebut lebih sukar untuk dikontaminasi bakteri lain dari luar. Sedangkan untuk biakan murni miringyakni memiliki kelebihan lebih mudah untuk dilakukan isolasi dibandingkan dengan menggunakan metode biakan murni tegak, akan tetapi hal tersebut akan menjadikan kemungkinan kontaminasi dari luar semakin besar. Selain itu jika menggunakan biakan murni miring, bakteri atau koloni bakteri yang ditumbuhkan didalam media lebih banyak. Dalam melakukan pembiakan jamur ada beberapa cara yang dapat di terapkan yakni salah satunya adalah dengan cara membuat media yang memiliki takaran yang tepat, baik sifat media, PH media, maupun bahan media yang digunakan sebagai media biakan. Kemudian langkah selanjutnya yakni melakukan sterilisasi alat terlebih dahulu. Teknik yang dapat digunakan untuk melakukan sterilisasi peralatan laboratorium bermacam-macam, bisa menggunakan autoklav, menggunakan pemanas, menggunakan alkohol, atau menggunakan sinar UV. Proses sterilisasi tergantung dengan peralatan yang akan di sterilkan. Kemudian untuk lagkah selanjutnya yakni adalah mengambil, atau mengisolasi sampel jamur yang akan dibiakkan dengan menggunakan jarum Ose, menempatkannya pada media yang telah tersedia. Dan menutupnya dengan menggunakan isolasi, dan menginkubasikan selama 24 jam. Setelah hal tersebut, kemudia langkah selanjutnya adalah dengan mengamati pertumbuhan yang terjadi dibawah mikroskop. Didalam melakukan pembuatan preparat awetan nematoda terlebih dahulu kita harus memancing nematoda dari sampel tanah yang terdapat tanaman inang dan menjadi inang nematoda tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan akar tanaman inang nematoda tersebut beserta tanah yang menempel pada akar tanaman inang nematoda pada bak yang telah berisi air bersih. Kemudian langkah selanjutnya adalah membersihkan akar tanaman inang tersebut dengan menggunakan air yang telah tersedia didalam bak hingga akar tanaman inang bersih dari tanah. Langkah selanjutnya yakni membiarkan air dalam bak yang telah keruh dengan tanah dari tanaman ianang tersebut, dengan tujuan agar tanah yang berada didalam bak tersebut mengendap, sehingga airnya sedikit jernih. Langkah berikutnya yakni menyaring air yang berada didalam bak tersebut dengan menggunakan 3 saringan yang memiliki kerapatan yang berbeda. Diawali dari saringan yang terlebar, hingga saringan yang paling rapat dengan tujuan agar nematoda tidak ikut terbuang bersama air yang telah disaring, sehingga nematoda masih tertinggal pada saringan. Kemudian menyemprot saringan dengan menggunakan sprayer, dan mengambil air yang mengalir dari saringan untuk dimasukkan kedalam bak yang lain. Setelah suspensi air yang terdapat nematoda tersebut dirasa cukup, mengambil air tersebut untuk dimasukkan kedalam cawan petri, atau bisa menggunakan gelas arloji. Dan mengamati keberadaan nematoda yang akan dipancing. Langkah awal untuk mulai memancing nematoda yakni setelah nematoda sasaran telah ditemukan memancing nematoda tersebut menggunakan lidi, atau bambu yang diraut hingga lancip dengan cara menempelkan ujung dari alat pancing nematoda tersebut ke tubuh nematoda, setelah ujung alat pancing mengenai tubuh nematoda, manarik tubuh nematoda tersebut secara perlahan hingga nematoda berhasil terangkat ke permukaan air, setelah nematoda berhasil terangkat dari permukaan air, memasukkan nematoda tersebut ke dalam preparat yang telah diberi parafin, memberi glasswol di sisi-sisi nematoda dengan tujuan agar nematoda yang berada dalam preparat tersebut tidak terjepit oleh preparat. Dalam melakukan pembuatan preparat awetan nematoda, terdapat beberapa kendala yang sedikit mengganggu berjalannya proses pembuatan preparat awetan nematoda tersebut. Salah satu kendalanya yakni sedikitnya nematoda patogen yang terdapat pada suspensi tanah yang di buat, sehingga dalam proses memancing nematoda tersebut membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, kendala lain yang dihadapi dalam membuat preparat awetan nematoda tersebut adalah minimnya peralatan laboratorium, khususnya mikroskop cahaya yang tidak dapat digunakan. Sehingga menggunakan mikroskop cahaya yang jatuhnya bayangan tidak nyata, yakni jika kita memasukkan ujung pancingan kedalam cawan petri dari sebelah kanan, dalam lensa mikroskop ujung yang terlihat berasal dari kiri, begitu juga sebaliknya, sehingga hal tersebut menyulitkan proses pemancingan nematoda yang dilakukan. Setelah nematoda yang dipancing dari suspensi tanah, atau cawan petri didapat, langkah selanjutnya yakni membuat preparat awetan nematoda. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan meletakkan nematoda yang berhasil dipancing menggunakan ujung lidi pada preparat yang di tengah preparat tersebut sudah terdapat parafin yang nantinya berfungsi sebagai pembatas, agar cairan laktofenol tidak meluber kemana-mana. Selain itu parafin berfungsi sebagai pembatas nematoda agar tidak pipih karena terjepit oleh preparat tersebut. Setelah hal tersebut dilakukan, langkah selanjutnya yakni memberi label dengan keterangan nama kolektor, jenis koleksi, tanggal koleksi, serta tempat didapatkanya nematoda tersebut, kemudian nematoda disimpan pada suhu kamar, dan siap untuk digunakan. 

4.2 Pembahasan

 Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh tabel seperti diatas, yakni pada kelompok 1 dengan menggunakan biakan murni jamur metode miring dengan wadah menggunakan tabung reaksi diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu, dan hitam kecoklatan. Setelah melakukan perbandingan dengan literatur, jamur yang tumbuh pada media biakan murni jamur miring tersebut adalah Aspergillus Niger. Sedankan untuk kelompok 2, dengan menggunakan media, dan perlakuan yang sama pula, dapat diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna hijau, keputihan, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur jamur yang tumbuh adalah jenis Trichodermaspp. Sedangkan untuk kelompok 3, dengan perlakuan, dan media yang sama diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu. Setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang ditemukan jamur yang tumbuh adalah jenis Fusarium sp. Sedangkan untuk kelompok 4 yang juga dengan perlakuan, serta media yang sama media tersebut dapat ditumbuhi jamur dengan warna putih susu, dan memiliki morfologi yang sama dengan jamur yang diperoleh dari kelompok 3 yakni jamur dengan jenis Fusarium sp. Dari proses pengamatan media biakan murni jamur metode miring yang telah diinkubasikan selama 24 jam diperoleh kontaminasi mikroorganisme lain yang tidak di harapkan. Kontaminasi tersebut terjadi pada kelompok 3 dan kelompok 4. Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kontaminasi tersebut diantaranya yakni tidak sterilnya peralatan yang digunakan untuk praktikum. Kebersihan peralatan, dan sterilnya peralatan laboratorium menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dengan seksama. Hal tersebut dikarenakan semua kegiatan laboratorium yang menggunakan peralatan pasti berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang kasat mata, jika peralatan yang telah digunakan tidak dibersihkan dan di sterilkan dengan benar, akan berakibat kontaminasi yang diakibatkan dari bakteri, virus, maupun mikroorganisme yang masih tertinggal, atau masih terdapat pada peralatan yang telah digunakan, dan berakibat tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diharapkan yang nantinya malah akan mengganggu proses pengamatan. Kemudian faktor yang kedua yang dapat mengakibatkan kontaminasi adalah kesalahan dalam melakukan isolasi. Hal tersebut sepertinya memang wajar dilkukan oleh manusia, akan tetapi dampak yang ditimbulkan akibat dari kesalahan isolasi berakibat pada kesalahan data yang nantinya akan diperoleh. Kesalahan yang sering dijumpai pada beberapa kegiatan laboratorium adalah kesalahan dalam tahapan, atau langkah kerja, misal ada beberapa langkah kerja yang harus di lakukan secara berurutan, akan tetapi salah satu langkan tersebut tertinggal, atau bukan pada tahapannya akan mengakibatkan kesalahan hasil, dan berakibat pada kesalahan data yang diperoleh. Terkadang kesalahan bahan yang digunakan pun juga dapat berakibat pada kesalahan hasil akhir. Faktor berikutnya yang dapat mempengaruhi kontaminasi disebabkan karena masuknya bakteri yang tidak diinginkan dari luar. Kita ketahui bahwa bakteri adalah mikroorganisme hidup yang dapat tumbuh dengan pesat. Karena bakteri merupakan mikroorganisme yang berukuran mikroskopis menjadikan bakteri sulit ketahui keberadaanya. Hal tersebut menjadikan bakteri masuk kedalam media tanpa disadari dan akan tumbuh pada media yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi bakteri tersebut. Jika hal tersebut sampai terjadi maka, akibat yang ditimbulkan adalah tumbuhnya mikroorganisme lain yang tidak diharapkan pada media tumbuh. Hal tersebut tentunya akan sangat mengganggu proses pertumbuhan, dan pengamatan bakteri yang diharapkan, dan nantinya akan berdampak pada kesalahan hasil data yang diperoleh. Jika pertumbuhan koloni yang diperoleh setelah melakukan inkubasi tumbuh dengan sempurna, yang biasanya di tandai dengan pertumbuhan koloni yang diharapkan menandakan proses isolasi tersebut sempurna. Kesempurnana tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor pula, seperti teknik isolasi, yang dimaksudkan adalah langkah dan cara yang dilakukan dan dikerjakan sesuai dengan petunjuk, dan menghasilkan hasil yang sesuai dan seperti diharapkan. Sedangkan jika hasil yang di dapat setelah melakukan isolasi dan masa inkubasi tidak ada perubahan, hal tersebut dikatakan biakan tidak tumbuh. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh beberapa hal seperti komposisi atau takaran media tidak sesuai dengan mikroorganisme yang akan di tubuhkan pada media tumbuh tersebut. Kita ketahui bahwa setiap mikroorganisme memiliki media tumbuh yang berbeda, ada yang tumbuh jika PH media basa, akan tetapi juga ada yang justru tidak tumbuh jika PH basa. Selain itu faktor yang dapat mengakibatkan mikroorganisme tidak tumbuh adalah ketika melakukan isolasi mikroorganisme yang diharapkan mati, matinya mikroorganisme tersebut juga disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah terkena pancaran sinar ultraviolet. Yang mengakibatkan mikroorganisme yang di tumbuhkan pada media tumbuh tidak dapat tumbuh seperti yang diharapkan. Dari proses pengamatan yang dilakukan yang terlebih dahulu dilakuan proses inkubasi selama 24 jam, diperoleh hasil dalam bentuk tabel seperti diatas, yakni pada kelompok 1, dengan perlakuan pengenceran kelipatan 10 kali pengenceran dengan menggunakan biakan murni tegak dengan wadah menggunakan tabung reaksi diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna hitam kecoklatan, yang setelah melakukan perbandingan dari literatur yang ada jamur yang tumbuh pada media kelompok 1 adalah jenis Aspergillus Niger spp. Sedangkan pada hasil kelompok 2, dengan menggunakan jenis media yang sama dan perlakuan yang sama pula, diperoleh pertumbuhan jamur berwarna hijau keputihan, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang telah didapatkan jamur yang ditumbuhkan tersebut adalah jamur jenis Trichoderma spp. Pada hasil media biakan murni jamur yang telah diperoleh dari kelompok 3, dengan perlakuan yang sama seperti pada perlakuan kelompok 1 dan kelompok 2 dengan menggunakan media biakan murni dengan metode miring diperoleh pertumbuhan jamur dengan warna putih susu, dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang ada jamur yang tumbuh pada media biakan tersebut adalah Fusarium sp. Sedangkan pada media biakan kelompok 4, dengan metode dan perlakuan yang sama, diperoleh jamur dengan warna putih susu. Dan setelah melakukan perbandingan dengan literatur yang diperoleh jamur yang tumbuh tersebut adalah jamur dengan jenis yang sama dengan kelompok 3, yakni Fusarium sp.Akan tetapi pada media biakan murni jamur pada kelompok 3 dan kelompok 4 tersebut mengalami kontaminasi bakteri dari luar jamur yang tumbuh dalam biakan murni tegak yang telah di buat memiliki warna hitam kecoklatan dan setelah dibandingkan dengan literatur yang didapatkan, jamur yang tunbuh pada media biakan kelompok 1 adalah jenis jamur Aspergillus niger sp. Jamur Aspergillus niger merupakan salah satu jenis jamur yang merugikan dikarenakan jamur tersebut bersifat patogen pada tanaman inangnya. Hal yang menjadikan jamur Aspergillus niger mapu mengganggu proses pertumbuhan tanaman iang dikarenakan jamur tersebut dapat menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin mampu mengkontaminasi biji-bijian, daging, buah-buahan sehingga menjadikan buah yang terkontaminasi menjadi busuk. Sedangkan pada biakan murni kelompok 2 memiliki warna hijau, dan setelah dilakukan perbandingan dengan literatur yang didapatkan jamur yang tumbuh pada media biakan murni kelompok 2 adalah jenis jamur Trichoderma spp. Jamur tersebut menjadi salah satu jamur yang bersifat saprofit, atau menguntungkan bagi tanaman inangnya. Hal tersebut dikarenakan hifa dari jamur Trichoderma tersebut mampu menjerat nematoda patogen, sehingga membantu tanaman terbebas dari serangan nematoda parasit yang bersifat merugikan. Nematoda parasit dapat dijerat oleh hifa Trichoderma dikarenakan pergerakan nematoda parasit sangat lambat sehingga hifa jamur mudah untuk menjerat. Sedangkan pada biakan kelompok 3 dan kelompok 4 yang terkontaminasi jamur yang di tumbuhkan berwarna putih susu, dan setelah dibandingkan dengan literatur yang ada, jamur yang tumbuh pada media biakan kontaminasi adalah jamur Fusarium sp. Jamur tersebut dikenal sebagai salah satu jamur yang menguntungkan, hal tersebut dikarenakan Fusarium merupakan jamur yang tumbuh pada tempe, tanpa adanya proses dari simbiosis jamur Fusarium, pembuatan tempe tidak akan berhasil. Dari praktikum yang telah dilakasanakan terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada media yang dibuat, yakni yang pertama adalah dengan menggunakan biakan murni tegak, dan biakan murni miring. Metode biakan murni tegak merupakan media biakan murni yang lebih sering menggunakan tabung reaksi sebagai tempat media tersebut, akan tetapi belum tentu media yang menggunakan tabung reaksi tersebut sebagai biakan murni tegak. Yang membedakan dari media murni tegak dan biakan murni miring adalah dari teknik pemberian media tersebut pada wadah, baik tabung reaksi, atau cawan petri. Jika pada biakan murni tegak media agar diberikan dengan menegagkan tabung reaksi dengan tujuan untuk meminimalisir kemungkinan terjadi kontaminasi oleh bakteri lain yang tidak diharapkan dari luar. Sedangkan untuk biakan murni miring yakni pemberian media dilakukan dengan memiringkan tabung reaksi, hal tersebut bertujuan untuk memperluas permukaan media yang berada didalam tabung reaksi tersebut, sehingga lebih mudah untuk melakukan pembiakan. Dari masing-masing metode yang digunakan, baik menggunakan media biakan murni tegak, dan metode biakan murni miring memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika pada media biakan murni tegak memiliki kelebihan yakni luas permukaan media agar lebih sempit, dibandingkan dengan metode biakan murni miring, hal tersebut menjadikan biakan murni tegak lebih bersifat meminimalisir kemingkinan terjadi kontaminasi dari luar. Hal tersebut dikarenakan pada metode biakan murni tegak selain permukaan media yang lebih sempit, akan tetapi juga menjadikan hal tersebut lebih sukar untuk dikontaminasi bakteri lain dari luar. Sedangkan untuk biakan murni miringyakni memiliki kelebihan lebih mudah untuk dilakukan isolasi dibandingkan dengan menggunakan metode biakan murni tegak, akan tetapi hal tersebut akan menjadikan kemungkinan kontaminasi dari luar semakin besar. Selain itu jika menggunakan biakan murni miring, bakteri atau koloni bakteri yang ditumbuhkan didalam media lebih banyak. Dalam melakukan pembiakan jamur ada beberapa cara yang dapat di terapkan yakni salah satunya adalah dengan cara membuat media yang memiliki takaran yang tepat, baik sifat media, PH media, maupun bahan media yang digunakan sebagai media biakan. Kemudian langkah selanjutnya yakni melakukan sterilisasi alat terlebih dahulu. Teknik yang dapat digunakan untuk melakukan sterilisasi peralatan laboratorium bermacam-macam, bisa menggunakan autoklav, menggunakan pemanas, menggunakan alkohol, atau menggunakan sinar UV. Proses sterilisasi tergantung dengan peralatan yang akan di sterilkan. Kemudian untuk lagkah selanjutnya yakni adalah mengambil, atau mengisolasi sampel jamur yang akan dibiakkan dengan menggunakan jarum Ose, menempatkannya pada media yang telah tersedia. Dan menutupnya dengan menggunakan isolasi, dan menginkubasikan selama 24 jam. Setelah hal tersebut, kemudia langkah selanjutnya adalah dengan mengamati pertumbuhan yang terjadi dibawah mikroskop. Didalam melakukan pembuatan preparat awetan nematoda terlebih dahulu kita harus memancing nematoda dari sampel tanah yang terdapat tanaman inang dan menjadi inang nematoda tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan akar tanaman inang nematoda tersebut beserta tanah yang menempel pada akar tanaman inang nematoda pada bak yang telah berisi air bersih. Kemudian langkah selanjutnya adalah membersihkan akar tanaman inang tersebut dengan menggunakan air yang telah tersedia didalam bak hingga akar tanaman inang bersih dari tanah. Langkah selanjutnya yakni membiarkan air dalam bak yang telah keruh dengan tanah dari tanaman ianang tersebut, dengan tujuan agar tanah yang berada didalam bak tersebut mengendap, sehingga airnya sedikit jernih. Langkah berikutnya yakni menyaring air yang berada didalam bak tersebut dengan menggunakan 3 saringan yang memiliki kerapatan yang berbeda. Diawali dari saringan yang terlebar, hingga saringan yang paling rapat dengan tujuan agar nematoda tidak ikut terbuang bersama air yang telah disaring, sehingga nematoda masih tertinggal pada saringan. Kemudian menyemprot saringan dengan menggunakan sprayer, dan mengambil air yang mengalir dari saringan untuk dimasukkan kedalam bak yang lain. Setelah suspensi air yang terdapat nematoda tersebut dirasa cukup, mengambil air tersebut untuk dimasukkan kedalam cawan petri, atau bisa menggunakan gelas arloji. Dan mengamati keberadaan nematoda yang akan dipancing. Langkah awal untuk mulai memancing nematoda yakni setelah nematoda sasaran telah ditemukan memancing nematoda tersebut menggunakan lidi, atau bambu yang diraut hingga lancip dengan cara menempelkan ujung dari alat pancing nematoda tersebut ke tubuh nematoda, setelah ujung alat pancing mengenai tubuh nematoda, manarik tubuh nematoda tersebut secara perlahan hingga nematoda berhasil terangkat ke permukaan air, setelah nematoda berhasil terangkat dari permukaan air, memasukkan nematoda tersebut ke dalam preparat yang telah diberi parafin, memberi glasswol di sisi-sisi nematoda dengan tujuan agar nematoda yang berada dalam preparat tersebut tidak terjepit oleh preparat. Dalam melakukan pembuatan preparat awetan nematoda, terdapat beberapa kendala yang sedikit mengganggu berjalannya proses pembuatan preparat awetan nematoda tersebut. Salah satu kendalanya yakni sedikitnya nematoda patogen yang terdapat pada suspensi tanah yang di buat, sehingga dalam proses memancing nematoda tersebut membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, kendala lain yang dihadapi dalam membuat preparat awetan nematoda tersebut adalah minimnya peralatan laboratorium, khususnya mikroskop cahaya yang tidak dapat digunakan. Sehingga menggunakan mikroskop cahaya yang jatuhnya bayangan tidak nyata, yakni jika kita memasukkan ujung pancingan kedalam cawan petri dari sebelah kanan, dalam lensa mikroskop ujung yang terlihat berasal dari kiri, begitu juga sebaliknya, sehingga hal tersebut menyulitkan proses pemancingan nematoda yang dilakukan. Setelah nematoda yang dipancing dari suspensi tanah, atau cawan petri didapat, langkah selanjutnya yakni membuat preparat awetan nematoda. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan meletakkan nematoda yang berhasil dipancing menggunakan ujung lidi pada preparat yang di tengah preparat tersebut sudah terdapat parafin yang nantinya berfungsi sebagai pembatas, agar cairan laktofenol tidak meluber kemana-mana. Selain itu parafin berfungsi sebagai pembatas nematoda agar tidak pipih karena terjepit oleh preparat tersebut. Setelah hal tersebut dilakukan, langkah selanjutnya yakni memberi label dengan keterangan nama kolektor, jenis koleksi, tanggal koleksi, serta tempat didapatkanya nematoda tersebut, kemudian nematoda disimpan pada suhu kamar, dan siap untuk digunakan.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Kesimpulan 
Dari praktikum pembuatan preparat awetan nematoda yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa jamur yang berada pada tanah memiliki bermacam-macam jenis, serta fungsi. Pertumbuhan jamur yang bersifat saprofit akan mendukung pertumbuhan tanaman inang, dengan kemampuanya untuk menjerat nematoda patogen dengan menggunakan hifanya. Selain itu, dalam membuat preparat awetan nematoda sangat ditentukan oleh tanaman inang, karena ketersediaan nematoda berada pada tanaman inang. Mikroorganisme memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan tanaman. 

5.2 Saran
Dalam memancing nematoda terdapat beberapa kendala, yang salah satunya kendala tersebut dikarenakan minimnya peralatan laboratorium, khususnya mikroskop. Hal tersebut menjadikan proses praktikum tidak berjalan secara efektif. Oleh sebab itu untuk kedepannya diharapkan dari pihak laboratorium mampu meningkatkan kualitas peralatan laboratorium, dengan tujuan agar proses praktikum dapat berlangsung secara efiktif, dan efesien. 


DAFTAR PUSTAKA


Irfandri. 2008. Pengaruh Lama Penggenangan Terhadap  Perkembangbiakan Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne Spp) Pada Tanaman Tomat. Natur Indonesia. 11 (1): 75-78. 

Matnawy, Hudi. 2007. Perlindungan Tanman.Kanisius. Yogyakarta.

Mustika, Ika. 2010. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman Di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian. 3 (2): 81-88.

Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Andi Offset. Yogyakarta.

Rahmita, Dewi dkk. 2007. Kerapatan dan Biodiversitas Nematoda Tanah Gambut Di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Bioscientiae. 3 (2): 85-91.

Reijntjes, Coen dkk. 2006. Pertanian Masa Depan. Kanisius. Yogyakarta.

Swibawa, I Gede. 2010. Pengaruh Infestasi Nematoda Pratylenchus Terhadap Pertumbuhan Tanaman Nenas [Ananas Comosus (L.) Merr.]. Hama dan Penyakit Tumbuhan. 1 (1): 25-28.

0 comments:

Post a Comment